Sebagai seorang anak kita
diwajibkan berbakti kepada orang tua.namun bagaimana kita setelah mempunyai
anak?
Fikiran seperti ini jarang
terlintas dalam benak kita terlebih apabila kita belum menikah dan mempunyai
anak. Saya yakin apa yang dirasakan orang tua kita seperti apa yang kita
rasakan pada anak kita.
Persis seperti yang saya
rasakan.Dan baru sadar karena sekarang sudah punya anak.saya yakin,apa yang
beliau rasakan persis apa yang kita rasakan sekarang.karena Anak adalah buah
hati bagi kedua orang tuanya yang sangat disayangi dan dicintainya.
Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki serta kearah mana anak tersebut akan dibawa.
Menurut Sunnah melahirkan anak yang banyak justru yang terbaik. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki serta kearah mana anak tersebut akan dibawa.
Menurut Sunnah melahirkan anak yang banyak justru yang terbaik. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
تَزَوَّجُوا الْوَلُوْدَ وَالْوَدُوْدَ
فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمْ.
Artinya: “Nikahilah wanita
yang penuh dengan kasih sayang dan karena sesungguhnya aku bangga pada kalian
dihari kiamat karena jumlah kalian yang banyak.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’I,
kata Al Haitsamin).
Namun bagaimana kita akan
mendidik anak kita agar menjadi soleh dan sholihah?dan kemana anak akan kita
arahkan setelah mereka terlahir. Umumnya orang tua menginginkan agar kelak
anak-anaknya dapat menjadi anak yang shalih, agar setelah dewasa mereka dapat
membalas jasa kedua orang tuanya. Namun obsesi orang tua kadang tidak sejalan
dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha merupakan salah satu faktor yang
sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter anak. Obsesi tanpa usaha
adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan.
Bahkan sebagian orang tua
akibat pandangan yang keliru menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi
bintang film (Artis), bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Mereka
beranggapan dengan itu semua kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti
kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal dibalik itu semua jika tidak dasari
iman ,akan mudah terjebak oleh lingkaran setan mulai dari mengumbar nafsu
birahi, Hura-hura, pergaulan bebas, miras, narkoba dan gaya hidup yang serba
glamour adalah konsumsi sehari-hari mereka. Apakah kita menginginkan anak-anak
kita menjadi orang yang jauh dari agamanya yang kelihatannya bahagia di dunia
namun menderita di akhirat? Tentu tidak. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)mereka” (An Nisa: 9).
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)mereka” (An Nisa: 9).
Imam Ibnu Katsir dalam
mengomentari pengertian lemah pada ayat ini memfokuskan pada masalah ekonomi.
Beliau mengatakan selaku orang tua hendaknya tidak meninggalkan keadaan
anak-anak mereka dalam keadaan miskin . (Tafsir Ibnu Katsir: I, hal 432) Dan
terbukti berapa banyak kaum muslimin yang rela meninggalkan aqidahnya (murtad)
di era ini akibat keadaan ekonomi mereka yang dibawah garis kemiskinan.
Karena itu sebagian orang
tua yang bijaksana, mesti mampu memperhatikan langkah-langkah yang harus di
tempuh dalam merealisasikan obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih. Di
bawah ini akan kami ketengahkan beberapa langkah yang cukup representatif dan
membantu mewujudkan obsesi tersebut:
1. Opini atau persepsi
orang tua atau anak yang shalih tersebut harus benar-benar sesuai dengan kehendak
Islam berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam
, bersabda:
إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ
إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ
صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.
Artinya: “Jika wafat anak
cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau
ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.”
(HR.Muslim)
Dalam hadits ini sangat
jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua
orang tuanya. Sementara kita telah sama mengetahui bahwa anak yang senang mendoakan
orang tuanya adalah anak sedari kecil telah terbiasa terdidik dalam
melaksanakan kebaikan-kebaikan,melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu
wa Ta'ala , dan menjauhi larangan-laranganNya. maka mustahil ada anak dapat
bisa mendoakan orang tuanya jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah
Allah Subhannahu wa Ta'ala dan senang bermaksiat kepadaNya.
2. Menciptakan lingkungan
yang kondusif ke arah tercipta-nya anak yang shalih.
Lingkungan merupakan tempat di mana manusia melaksana-kan aktifitas-aktifitasnya. Secara mikro lingkungan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:
Lingkungan merupakan tempat di mana manusia melaksana-kan aktifitas-aktifitasnya. Secara mikro lingkungan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:
a. Lingkungan keluarga
Jika anak dalam keluarga
senantiasa terdidik dalam warna keIslaman, maka kepribadiannya akan terbentuk
dengan warna keIslaman tersebut. Namun sebaliknya jika anak tumbuh dalam
suasana yang jauh dari nilai-nilai keIslaman, maka jelas kelak dia akan tumbuh
menjadi anak yang tidak bermoral.
Seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang mewarnainya, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
Seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang mewarnainya, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ،
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. (رواه البخاري).
Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang
fitrah (Islam), maka orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani
atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari)
Untuk itu orang tua harus dapat memanfaatkan saat-saat awal dimana anak kita mengalami pertumbuhannya dengan cara menanamkan dalam jiwa anak kita kecintaan terhadap diennya, cinta terhadap ajaran Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam,
Untuk itu orang tua harus dapat memanfaatkan saat-saat awal dimana anak kita mengalami pertumbuhannya dengan cara menanamkan dalam jiwa anak kita kecintaan terhadap diennya, cinta terhadap ajaran Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam,
b. Lingkungan Sekolah
Sekolah yang ditata dengan managemen yang baik tentu akan lebih mampu memberikan hasil yang memuaskan dibandingkan dengan sekolah yang tidak memperhatikan sistem managemen. Sekolah yang sekedar dibangun untuk kepentingan bisnis semata pasti tidak akan mampu menghasilkan murid-murid yang berkwalitas secara maksimal, kualitas dalam pengertian intelektual dan moral keagamaan.
Sekolah yang ditata dengan managemen yang baik tentu akan lebih mampu memberikan hasil yang memuaskan dibandingkan dengan sekolah yang tidak memperhatikan sistem managemen. Sekolah yang sekedar dibangun untuk kepentingan bisnis semata pasti tidak akan mampu menghasilkan murid-murid yang berkwalitas secara maksimal, kualitas dalam pengertian intelektual dan moral keagamaan.
Oleh sebab itu orang tua
seharusnya mampu melihat secara cermat dan jeli sekolah yang pantas bagi
anak-anak mereka. Orang tua tidak harus memasukkan anak mereka di
sekolah-sekolah favorit semata dalam hal intelektual dan mengabaikan faktor
perkembangan akhlaq bagi sang anak, karena sekolah tersebut akan memberi warna baru
bagi setiap anak didiknya.
c. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat adalah komunitas yang terbesar dibandingkan dengan lingkungan yang kita sebutkan sebelumnya. Karena itu pengaruh yang ditimbulkannya dalam merubah watak dan karakter anak jauh lebih besar.
Masyarakat yang mayoritas anggotanya hidup dalam kemaksiatan akan sangat mempengaruhi perubahan watak anak kearah yang negatif. Dalam masyarakat seperti ini akan tumbuh berbagai masalah yang merusak ketenangan, kedamaian, dan ketentraman.Sebagai sesdama umat muslim kita harus saling mengingatkan.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , bersabda:
Masyarakat adalah komunitas yang terbesar dibandingkan dengan lingkungan yang kita sebutkan sebelumnya. Karena itu pengaruh yang ditimbulkannya dalam merubah watak dan karakter anak jauh lebih besar.
Masyarakat yang mayoritas anggotanya hidup dalam kemaksiatan akan sangat mempengaruhi perubahan watak anak kearah yang negatif. Dalam masyarakat seperti ini akan tumbuh berbagai masalah yang merusak ketenangan, kedamaian, dan ketentraman.Sebagai sesdama umat muslim kita harus saling mengingatkan.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ
بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ
وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ. (رواه مسلم).
Artinya: “Barangsiapa di
antaramu melihat kemungkaran hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia
tidak sanggup maka dengan lidahnya, dan jika tidak sanggup maka dengan hatinya.
Dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah...” (Ali Imran: 110).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar